Langsung ke konten utama

Kota Langsa

Kota Langsa adalah salah satu kota di Aceh, Indonesia.
Kota Langsa merupakan bekas dari sebagian wilayah Kabupaten Aceh Timur. Berada kurang lebih 400 km dari kota Banda Aceh. Kota Langsa sebelumnya berstatus Kota Administratif sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1991 tentang Pembentukan Kota Administratif Langsa. Langsa kemudian ditetapkan statusnya menjadi kota dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001, tanggal 21 Juni 2001. Terletak sekitar 400 mil dari kota Banda Aceh, Ada beberapa perguruan tinggi di kota Langsa, antara lain: Universitas Samudra Langsa, STAIN Zawiyah Cot Kala, Kampus LP3I dan beberapa sekolah dari keperawatan dan kebidanan seperti: Akademi keperawatan "Harapan Ibu", Akademi keperawatan Yayaysan "Cut Nyak Dien ", Akademi keperawatan "UMMI", Akademi Keperawatan Depkes (Departement Kesehatan) dan lain nya.

Cuaca

Daerah Langsa merupakan daerah tropis yang selalu dipengaruhi oleh angin musim, sehingga setiap tahun ada dua musim yang berbeda yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan biasanya terjadi setiap tahun antara bulan Februari dan musim kemarau berkisar dari bulan Maret sampai Agustus. Meskipun perubahan cuaca sering, curah hujan rata-rata per tahun berkisar dari 1500 mm sampai 3000 mm, sedangkan suhu udara rata-rata berkisar antara 28 ° - 32 ° C dan kelembaban relatif rata-rata 75 persen

Tempat Menarik di Kota Langsa

  1. Lapangan Merdeka Kota Langsa. Menghabiskan waktu di sore hari, dengan sajian makanan dan hiburan yang tersedia. Lapangan ini biasa dipakai untuk acara - acara dan kegiatan sosial lainya. Ada banyak sajian makanan yang ditawarkan disini, menjelang sore dan malam hari. Menu istimewa adalah, sate daging, ice cream, makanan tradisional, western food seperti Hamburger dan Pizza, dan jajanan lainya dengan harga yang sangat terjangkau. Lapangan ini akan dipenuhi orang-orang ketika sabtu malam (atau malam minggu)
  2. Taman Bambu Runcing Taman ini terletak tak berjauhan dari Lapangan Merdeka Kota Langsa. Taman dengan konsep "Central Park" atau "Taman di tengah kota" ini banyak dikujungi karena ada nilai sejarah kemerdekaan disini. Salah satu karakteristik taman ini adalah, adanya Bambu Runcing yang berdiri megah di tengah taman. Diperkaya juga dengan plakat dan gambar perjuangan Rakyat Aceh mengusir penjajah. Plakat ini terletak di belakang Bambu Runcing
  3. Gedung Bappeda Aceh Timur yang terletak di jantung Kota Langsa. Bangunan ini masih bercirikan bangunan Kolonial arsitektur Belanda. Bangunan ini beralih fungsi menjadi kantor sekarang. Sayang, bangunan ini kurang terawat, padahal bangunan ini bisa menjadi aset pariwisata yang bagus. Di depan gedung ini, ada Kantor Pos yang sama - sama bercirikan arsitek Belanda
  4. Pelabuhan Kota Langsa Pelabuhan ini adalah satu-satunya pelabuhan yang menghubungan Kota Langsa dengan selat Malaka. Dahulu pelabuhan ini ramai akan aktifitas bongkar muat pengiriman mulai dari Malaysia, Penang, Thailand, India dan Singapura. Semenjak Konflik Aceh, Pelabuhan ini menjadi sepi. Proyek besar-besaran dilakukan, untuk memoles pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang lebih baik lagi
  5. Kawasan Pecinan atau biasa disebut dalam bahasa inggris China Town warga Kota Langsa biasa menyebut dengan Kawasan Toko Belakang kawasan ini dulunya merupakan, kawasan komunitas warga tinghoa yang besar. Sampai sekarang beberapa bangunan asli milik warga tinghoa masih bisa dilihat,namun seiring perkembangan zaman, sebagian bangunan ini dihancurkan dan dibangun bangunan yang lebih moderen. Ada beberapa makanan khas China disini, seperi Kwetiau, Pangsit, cap cay dan lain-lain. Terdapat juga satu bangunan pabrik kecap asin tertua disini, dan didekat pasar, ada Vihara Buddha Langsa yang juga menawarkan keindahan seninya

Mayoritas Penduduk

Mayoritas penduduk Langsa adalah suku Aceh, suku Tionghoa, suku Melayu, suku Batak, dan suku Jawa. Ada banyak pendatang dari Jawa yang telah menetap dan menikah di Langsa. Bahasa Aceh digunakan untuk rakyat Aceh dan beberapa suku, bahasa Indonesia tetap menjadi bahasa ibu, sebagai bahasa bisnis, sekolah pemerintah,, universitas dan kantor. Bahasa Melayu digunakan dalam percakapan sehari-hari, tidak berbeda dengan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia, hanya beberapa kata dan makna aksen yang sedikit berbeda. Islam adalah agama mayoritas di Aceh dan Langsa, Kristen juga menjadi bagian dari populasi, Buddha banyak diadopsi oleh komunitas warga Tionghoa(cina). Langsa merupakan kota yang kaya akan perbedaan etnis dan, bagaimanapun, penduduk tetap hidup dalam damai dan memiliki toleransi beragama yang kuat. Lokasi Langsa sangat dekat dengan ibu kota Medan Sumatera Utara, menempatkan Langsa sebagai kota yang strategis dan kaya imigran

Tempat Ibadah di Kota Langsa

  1. Masjid besar Kota Langsa Darul Falah, masjid terbesar yang berlokasi di jantung kota dengan fasilitas besar yang dapat menampung jamaah untuk melakukan ibadah. Terdapat banyak masjid yang tersebar di penjuru kota. Mayoritas penduduk di Langsa adalah Islam, tidak sulit untuk menemukan Masjid di Kota Langsa khususnya di Aceh
  2. Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), berlokasi di tengah kota, berdekatan dengan lapangan merdeka Kota Langsa
  3. Vihara Buddha Langsa, berlokasi di pusat pasat tradisional Kota Langsa, Vihara ini sangat indah dengan balutan cat warnah merah yang mencirikan warna khas komunitas Tionghoa

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kabupaten Ponorogo

Kabupaten Ponorogo adalah sebuah kabupaten di provinsi Jawa Timur , Indonesia . Kabupaten ini terletak di koordinat 111° 17’ - 111° 52’ BT dan 7° 49’ - 8° 20’ LS dengan ketinggian antara 92 sampai dengan 2.563 meter di atas permukaan laut dan memiliki luas wilayah 1.371,78 km² [5] . Kabupaten ini terletak di sebelah barat dari provinsi Jawa Timur dan berbatasan langsung dengan provinsi Jawa Tengah atau lebih tepatnya 200 km arah barat daya dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Surabaya . Pada tahun 2010 berdasarkan hasil Sensus Penduduk , jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo adalah 855.281 jiwa. [2] Hari jadi Kabupaten Ponorogo diperingati setiap tanggal 11 Agustus , karena pada tanggal 11 Agustus 1496 , Bathara Katong diwisuda/dinobatkan sebagai adipati pertama Kadipaten Ponorogo . Pada tahun 1837 , Kadipaten Ponorogo pindah dari Kota Lama ke Kota Tengah menjadi Kabupaten Ponorogo. [6] [7] Semenjak tahun 1944 hingga sekarang Kabupaten Ponorogo sudah berganti kepemimpinan seba...

Kabupaten Lahat

Kabupaten Lahat adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan .   Lambang Kabupaten Lahat Motto : Seganti Setungguan Sejarah Lahat Sekitar tahun 1830 pada masa kesultanan Palembang di Kabupaten Lahat telah ada marga, marga-marga ini terbentuk dari sumbai-sumbai dan suku-suku yang ada pada waktu itu seperti Lematang, Pasemahan, Lintang, Gumai, Tebing Tinggi dan Kikim. Marga merupakan pemerintahan bagi sumbai-sumbai dan suku-suku. Marga inilah merupakan cikal bakal adanya Pemerintah di Kabupaten Lahat. Pada masa bangsa Inggris berkuasa di Indonesia, Marga tetap ada dan pada masa penjajahan Belanda sesuai dengan kepentingan Belanda di Indonesia pada waktu itu pemerintahan di Kabupaten Lahat dibagi dalam afdelling (Keresidenan) dan onder afdelling (kewedanan) dari 7 afdelling yang terdapat di Sumatera Selatan, di Kabupaten Lahat terdapat 2 (dua) afdelling yaitu afdelling Tebing Tinggi dengan 5 (lima) daerah onder afdelling dan afdelling Lematang Ulu, L...

Kesultanan Siak Sri Inderapura

Kesultanan Siak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak , Provinsi Riau , Indonesia . Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723 , setelah sebelumnya terlibat dalam perebutan tahta Johor . Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat [2] dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa . Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat , sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan . [3] [4] [5] Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka . Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia , Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia . [6] Etimologi Kat...